Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Senin, 25 Februari 2013

Belajar dari Kamalagyan untuk Kasus Banjir Jakarta



Ketika membuat posting ini saya sedang berada di Musium Mpu Tantular, Sidoarjo. Tepatnya di pendoponya, di mana tiruan prasasti Kamalagyan dipamerkan.

Prasasti yang ditemukan di desa Tropodo, Krian, Sidoarjo dan ditulis pada 959 Saka atau 1037 Masehi itu berisi tentang pemberian anugerah sebagai daerah bebas pajak bagi Desa Kamalagyan. Hal itu dikarenakan warga desa tersebut mendapatkan tugas untuk menjaga bendungan Waringin Sapta oleh Raja Airlangga. Bendungan itu sendiri dibangun untuk membagi aliran Sungai Brantas menjadi tiga agar tidak menyebabkan banjir pada daerah kawasan pertanian di sekitar Sungai Brantas.

Itu tadi menunjukkan cara Raja Airlangga untuk mengatasi banjir.

Saya cuma sekedar lempar sebuah gagasan. Silahkan dikaji lagi apakah bisa diterapkan atau tidak. Jika Raja Airlangga membebaskan pajak desa Kamalagyan untuk menugaskan warga desa mencegah banjir kiriman, bagaimana kalau hal serupa diterapkan di Bogor?

Sudah umum diketahui bahwa banjir di Jakarta sebenarnya adalah kiriman dari puncak Bogor. Bagaimana kalau pemerintah kota Bogor diberi kesempatan untuk tidak memberikan setoran uang pajak atau PAD apapun pada pusat dengan satu persyaratan, yaitu: Hentikan kiriman banjir ke Jakarta!

Bisa, tidak, ya?


Sabtu, 26 Januari 2013

Apa Itu Cinta?

Cinta itu mutlak ada dalam kehidupan. Tapi, apa itu cinta? Itu adalah misteri. Semua orang pasti pernah merasakan, bertemu, atau minimal bersinggungan dengan sesuatu hal yang bernama cinta. Tapi, mengapa banyak orang masih bertanya. Apa itu cinta?

Pada dasarnya, harusnya semua orang bisa menjawab pertanyaan itu. Apa itu cinta? Tapi, mengapa masih sering terdengar pertanyaan itu. Bukankah orang yang bertanya "Apa itu cinta?" adalah justru orang yang sedang jatuh cinta? Maka harusnya mereka tinggal memejamkan mata, berpikir, dan merasakan, hingga akhirnya menemukan sendiri jawabannya. Apa itu cinta?

Jika di pikir-pikir lagi, maka sebenarnya pertanyaan itu keliru. Bukankah seringkali sebuah pertanyaan diajukan, tapi sebenarnya jawaban yang dicari bukan jawaban pertanyaan itu, melainkan sesuatu yang implisit di dalamnya?

"Apa itu cinta?" adalah pertanyaan bullshit yang tidak lebih dari sekedar dummy. Hanya suatu ungkapan eksplisist yang menyembunyikan pertanyaan sebenarnya. Pertanyaan sebenarnya: "Aku sedang jatuh cinta, tapi mengapa aku merasa sakit, padahal mereka bilang cinta itu indah?"

Mungkin begitu.

Sebab, itu yang aku rasakan, "Mengapa aku merasa sakit ketika jatuh cinta, padahal mereka bilang cinta itu indah?"""

Jumat, 04 Januari 2013

Tawaran Untuk Para Remaja


(Kecuali bagian yang tercetak merah ini, seluruh isi tulisan berikut merupakan kutipan langsung tulisan Huhaji Fikriono dalam “Puncak Maksifat Jawa – Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram”, Noura Books: 2012, halaman 368-371 dengan judul yang sama. Penulis buku tersebut sendiri menyadurnya dari ceramah Ki Ageng Suryomentaram untuk para remaja yang berudul “Sikap Pemuda-Pemudi dalam Masyarakat yang Bobrok. “Falsafat Hidup Bahagia” Jild 3, hal 105-107.)

 

 


Kami orang-orang yang sudah tua ini umumnya mempunyai tabiat buruk. Sudah semestinya jika para remaja mengevaluasi dengan kritis. Hampir tiap hari kami bersitegang dan berselisih dengan istri, anak, saudara, tetangga, golongan lain, orang-orang yang beragama lain, bangsa lain, dan sebagainya. Selama siang dan malamkami tak henti-hentinya saling bermusuhan, dan baru akan berhenti si saat tidur. Bahkan di dalam tidut, kami juga masih sering mimpi bertengkar.

Penyebab perselisihan kami para orang tua adalah karena kami suka berebut. Kami saling memperebutkan benda-benda untuk menutupi diri kami supaya tidak terlihat dengan telanjang oleh orang lain, juga oleh diri kami sendiri. Benda-benda yang kami perebutkan itu hanyalah untuk menutupi diri kami, dari pengelihatan orang lain dan diri kami sendiri.

Misalnya, kami tengah mengenakan pakaian bermerek, mobil bermerek, dan baru saja membeli sebuah rumah atau apartemen di kawasan elit maka kami pun lantas berjalan tegak di hadapan orang banyak dengan perasaan bangga karena merasa diri kami telah menjadi elit dan bermerek sebagaimana pakaian yang kami kenakan atau barang-barang yang baru saja kami beli. Setiap kali kami berpapasan dengan kolega kami, tanpa mereka minta kami akan bercerita bahwa mobil kami baru, keluaran terbaru dari pabrik anu, sehingga anu, dan menjadi paling anu, sembari merasa bahwa diri kami juga turut menjadi baru dan keren seperti citra mobil baru itu. Padahal kami sebagai pribadi sama sekali tak pernah baru. Bahkan ketika kami berganti ágama baru” sekalipun, kami tidak pernah menjadi beru.

Karena hati kami demikian gelap, kami tak kunjung dapat menyadari diri kami sendiri. Ketika kami memilih ideologi baru, isme batu, komunitas baru, bahkan spiritualitas yang kami anggap baru, sesungguhnya kami hanya menjadikannya sebagai kebanggaan semata. Meski dalam hati, kami merasa sudah selaras dengan ideologi dan spiritualitas baru kami. Kami juga merasa sudah dapat bersetia kawan, setidaknya dengan orang-orang dalam komunitas baru kami, namun dalam praktiknya kami tetap hobi bertengkar. Bahkan spiritualitas baru kami pun kami jadikan sebagai sarana peetengkaran. Begitu pula ideologi baru kami, kami jadikan sebagai sarana untuk bermusuhan dengan golongan lain, bahkan dengan bangsa lain.

Begitulah keadaan kami yang sesungguhnya, wahai para remaja. Masing-masing kami tidak ada yang memiliki kesediaan untuk merasa sama dan setara dengan orang lain. Jadi, perselisihan di antara kami sebenarnya adalah ekspresi penolakan kami terhadap kebersamaan dan kesetaraan. Namun, secara culas kami membungkus semua itu dengan berbagai doktrin, isme-isme, bahkan dengan ajaran agama serta spiritualitasnya.

Tentu saja kami tidak pernah sungguh-sungguh mendalami spirit dalam agama-agama kami, wahai para remaja .... Karena, jika kami sampai dapat memahami spirit dalam agama-agama kami, tentunya kami akan dapat melihat dengan jelas berbagai keburukan yang terus kami pelihara di dalam hati kami. Jadi, mata batin kami memang tidak pernah terbuka, wahai para remaja.

Sekarang kalian semua telah mengetahui betapa buruknya hati kami, Kami telah sedemikian serakah terhadap harta benda, kedudukan, serta kekuasaan,sehingga kami senantiasa berebut di antara kami sendiri. Padahal kalian sudah paham, bukan? Bahwa masyarakat terbentuk karena adanya hubungan antarpribadi. Sebagai pribadi-pribadi kami masih terus-menerus berebut. Itu berarti masyarakat yang terdiri dari kami orang-orang tua ini telah bobrok, kalian mestinya dapat memperbaruinya. Atau, kalau belum mampu melakukan pembaruan, setidaknya kalian tidak ikut-ikutan seperti kami yang sudah kolot dan jadul ini. Itulah tawaran dari kami orang-orang tua yang telah bobrok ini, Wahai Para Remaja.


Manusia sesungguhnya mengalami revolisi semenjak dilahirkan hingga tumbuh dewasa. Setelah berkeluarga revolusi manusia seolah terhenti. Karena manusia mulai menyesuaikan diri dengan masyarakat yang telah bobrok, dan kemudian ikut-ikutan menjadi bobrok. Jadi, ketika para remaja berusaha untuk menyesuaikan diri dengan mesyarakat yang ada sekarang ini, berarti secara tidak langsung telah berkeinginan untuk ma’mum menjadi bobrok. Setelah kalian kerkeluarga nanti, kalian pasti akan segera dibujuk orang-orang tua untuk turut aktif berpartisipasi guna memperkokoh masyarakat yang sudah bobrok. Awalnya mungkin kalianhanya diundang untukmenghadiri berbagai perjamuan yang mereka adakan. Namun, jika kalian tidak ngeh dan waspada, kalian akan segera mereka ajak untuk berebutan dalam pesta keserakahan yang tiada akhir.***

Sabtu, 15 Desember 2012

KORUPTOR LEBIH MULIA DARI PENCOPET?


Koruptor. Semua sepakat bahwa koruptor adalah orang biadab. Korupsi merugikan banyak orang, pekerjaan orang yang tidak punya hati.

Tapi, saya merasa banyak ungkapan-ungkapan yang terlalu berlebihan tentang koruptor. Salah satunya adalah yang menganggap koruptor lebih rendah dari pencopet. Apa benar begitu?


Menurut saya tidak. Koruptor tetap lebih mulia dari pencopet. Ini alasannya:

1.       Orang yang paling mulia adalah orang paling banyak berguna bagi orang lain.
Kita lihat koruptor. Meski dia merugikan banyak orang, tapi setidaknya dia telah meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri dan kieluarganya, serta kerabat-kerabatnya. Jadi, koruptor masih berguna bagi beberapa orang.
Sedangkan pencopet. Bahkan bagi dirinya sendiri, apa yang dia lakukan tidak membuat kesejahteraannya meningkat. Mencopet adalah kegiatan yang sia-sia bagi diri sendiri, dan merugikan banyak orang.

2.       OK, untuk menanggapi argumentasi pertama saya tadi, mungkin orang mengatakan bahwa koruptor memang berguna bagi beberapa orang. Tapi, merugikan sangat amat benar-benar banyak sekali orang.
Ups! Tunggu dulu! Mari kita lihat argumen kedua saya!
Koruptor memang mencuri dari banyak orang. Tapi, justru karena itu orang yang dicuri jadi tidak terasa. Separti halnya membayar utang dengan cara mencicil. Membayar, tapi tidak terlalu terasa. Begitu pula korban korupsi. Kecurian, tapi tidak terasa.
Pencopet? Lihat mereka! Mencopet di stasiun, terminal, pasar-pasar. Korban yang mereka copet memang sedikit. Tapi, si korban langsung kehabisan uang sama sekali. Masih mending jika itu di pasar. Kalau di stasiun atau terminal? Bayangkan ketika seorang pemuda perantauan dengan mimpi menjulang tinggi di angkasa baru sampai di kota, tapi uangnya dicopet. Tidakkah semua mimpinya buyar? Betapa kejinya perbuatan mencopet.

Itu tadi pendapat saya. Mungkin terdengar guyonan, tapi saya serius.

Kutuklah koruptor seperlunya. Jangan berlebihan. Berlebihan mengutuk koruptor hanya akan membuat kita lupa pada hal-hal lain yang lebih penting. Misalnya, ya, tentang masalah pencopet ini. Hehe!

Kamis, 11 Oktober 2012

Bisakah SBY jadi yang pertama?


Menginjak bulan ini, menginjak tiga tahun Pak SBY  menjalani masa jabatan periode keduanya sebagai presiden RI. Artinya, telah delapan tahun sejak pertama beliau menjabat presiden. Dan tinggal dua tahun lagi.  Lalu, beliau akan turun kursi.

Selama delapan tahun ini, telah banyak prestasi yang ditorehkannya. Dalam bidang ekonomi, Indonesia kini telah masuk G20. Dengan menjadi negara penghasil PDB terbesar ke16 se dunia. Pertumbuhan ekonomi nasional 6,4% dan pendapatan perkapita US$ 4.000.  Dalam bidang budaya, pemerintahannya telah berhasil memperjuangkan batik agar diakui sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia dan kini telah menjadi populer di seluruh dunia. Komodo masuk sebagai 7 wonders of nature. Dalam urusan militer, Presiden SBY telah mencanangkan MEF (minimum Esensial Fors) atau kekuatan pokok minimum, sehingga kini kekuatan militer Indonesia suadah mulai dihormati lagi oleh negara kawasan. Setidaknya, jiran utara sudah tidak banyak ulah lagi beberapa tahun ini. Masih dalam bidang militer, revitalisasi BUMN industri strategis dilakukan. Hasilnya, kini berbagai alutsista dengan teknologi menengah sudah bisa diproduksi dalam negeri. Yang tak kalah penting, dalam masa jabatannya lah, lembaga antikorupsi (KPK) bisa dibentuk dan terus dilindungi. Sebagai catatan, presiden-presiden sebelumnya pernah membentuk badan-badan semacam KPK, namun gagal melaksanakan tujuan hingga akhirnya dibubarkan. Misalnya KPKPN pada masa Habibie, dan TGPTKP pada masa Gus Dur.

Urusan hubungan luar negeri jangan ditanya lagi. Indonesia telah menunjukkan kewibawaannya dengan berhasil memediatori perdamaian antara Thailan dan Kamboja dalam sengketa milayah. Denagn politik Millions Friends, Zero Enemy, Indonesia menjadi makin bebas dan aktif dalam berbagai urusan internasional.

Memang masih banyak tantangan yang harus diperjuangkan.  Swasembada beras, daging, garam, gula, dan kedelai. Melanjutkan revormasi pendidikan dan birokrasi. Penyelesaian separatisme di Pulau Irian. Dan lain-lain, lah.

Namun, yang menjadi satu tantangan lagi, khusus bagi SBY adalah, ‘Bisakah beliau jadi yang pertama?’ Pertama dalam hal apa? Maksud saya adalah pertama sebagai presiden Indonesia yang naik dan turun kursi jabatan tanpa kisruh.

Perlu diingat bahwa sampai presiden kemarin, Megawati yang presiden ke lima itu, belum ada presiden Indonesia yang naik dan turun kursi jabatan tanpa kisruh. Sukarno sebagai presiden pertama tentu diangkat dengan kisruh yang luar biasa karena harus melaui perjuangan berdarah-darah melawan penjajah. Turunnya pun harus melalui kisruh luar biasa  oleh demonstrasi mahasiswa. Presiden Suharto pun naik dengan memanfaatkan suasana kisruh itu. Dan karma terjadi. Beliau diturunkan dengan cara yang hampir sama. Habibie naik kursi setelah Suharto terpaksa turun jabatan. Dan mengakhiri jabatan dengan pidato pertanggungjawaban yang ditolak oleh DPR.

Gus Dur barangkali bisa diangga sebagai presiden pertama yang memulai masa jabatan dengan pemilu yang damai. Tapi, beliau terpaksa turun setelah kursinya digoyang oleh elit politik yang tidak sejalan dengannya. Dengan kata lain, diturunkan dengan kisruh. Sebaliknya dengan Bu Mega. Beliau turun dengan aman, tapi diangkat dengan kisruh.

Mampukah SBY menjadi yang pertama? Jika beliau bisa menunaikan tugasnya sampai 2014 dan melakukan transisi pemerintahan dengan damai, maka beliaulah yang pertama. Dan jika itu terjadi, sesungguhnya itu bukan cuma prestasi beliau. Namun juga menjadi prestasi seluruh Bangsa Indonesia. Bahwa Bangsa Indonesia sudah dewasa dan memiliki kestabilan politik. “Amin!”

Rabu, 10 Oktober 2012

Mobnas Listrik dan Tamparan Balik dari Insinyur


Prototype mobnas lisrik kedua dari lima yang akan dibuat akan segera muncul. Mobil mewah sekelas ferrari. Buatan Insinyur lulusan ITS dengan gelar Doktor dari Michigan bernama Danet Suryatama. Ini dia penampakannya.

Mobnas listrik kelas ferrari buatan Danet Suryatama
Mobil mewah yang dibandrol Rp 1,5 milyar ini saat ini masih menjalani tes di Yogyakarta.

Sebelum ini,  purwa rupa mobnas listrik pertama yang merupakan type citycar juga sudah mendahului. Mobil itu sempat menjadi buah bibir di berbagai media lantaran sudah dipakai oleh mentri BUMN Dahlan Iskan dalam berbagai kesempatan. Mobil citycar yang dicat hijau itu adalah karya Dasep Ahmadi yang lulusan ITB.

Mobnas listrik kelas citycar buatan Dasep Ahmadi

“Inilah tamparan balik dari insinyur-insinyur Indonesia!”
Menurut saya, itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan hal ini. Kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu, SMK di Surakerta memperkenalkan mobil karya mereka yang diberi nama Esemka Rajawali. Bahkan mobil itu kini sudah mulai diproduksi masal. Inilah bukti bahwa ‘SMK BISA!’

Hal itu tentu menjadi tamparan keras bagi insinyur-insinyur teknologi Indonesia. Apakah institutut-institut teknologi yangbesar-besar, banyak mahasiswanya, lagi mahal biayanya itu tidak bisa membuat mobil nasional? Karena sesungguhnya mobnas adalah impian negara ini dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Apakah biar anak SMK saja yang menjawab impian ini, sementara para insinyur hanya melihat?

Dalam kasus SMK itu, barangkali bukan cuma Insinyur yang tertampar. Jokowi juga sukses menampar pemerintah pusat. Sebagai walikota Surakerta saat itu, dia bisa memfasilitasi mobil ESEMKA itu sampai akhirnya bisa diproduksi masal.

Insinyu-insinyur kita tentunya tuidak ingin kalah dari Anak SMK. Presiden juga tidakmau kalah dengan Jokowi. Untuk itu, roadmap mobnas listrik pun dibentuk. Untuk meluncurkan konsep mobil yang lebih canggih dari mobil ESEMKA. Lebih irit dan lebih ramah lingkungan. Yang tidak lagi menggunakan BBM sehingga tidak akan membebani APBN untuk memberikan subsidi.

Memang jalan masih panjang untuk mobil listrik ini. Diperkirakan, 2017 baru akan bisa sampai di tahap produksi masal. Tapi, yakinlah bahwa bukan cuma anak SMK dan pemkot Surakerta saja yang bisa. “INSINYUR BISA!” “INDONESIA BISA!”