Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2017

Baca dan Nikmati Saja Petualangannya

Judul      : Semua Ikan di Langit
Penulis   : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grafindo
Terbit     : Cetakan 1, Februari 2017
Tebal      : 262 halaman
ISBN      : 9786023758067


Kelihatannya ringan, namun semakin dibaca, “Semua Ikan di Langit” mengandung isi yang dalam. Novel ini mengajak pembaca berpetualang, namun bisa juga diartikan pengarang sendirilah yang sebenarnya sedang berpetualang. Yang kedua mungkin lebih tepat.
Cover novel ini terkesan epik, dan begitu pula isinya. Ia berkisah perjalanan sebuah Bus Damri yang mendapatkan keajaiban sehingga bisa terbang. Suatu malam ikan julung-julung dari langit menculiknya, lalu membawanya pada Beliau. Beliau sendiri adalah tokoh yang tidak diberi nama, yang digambarkan sebagai anak laki-laki penuh keajaiban. Anak itu tidak pernah bicara, tidak makan dan tidak minum, serta selalu berwajah datar. Anak itu tidak pernah menapakkan kakinya di atas tanah, serta dari rambutnya bisa keluar ikan-ikan julung-julung terbang. Bersama Beliau dan ikan julung-julung, Bus Damri berpetualang menjelajah ruang dan waktu.
Dalam petualangan mereka itu, Bus Damri bertemu banyak orang (manusia, binatang, maupun benda-benda mati yang diorangkan). Dua di antaranya adalah kucing bernama Bastet dan kecoa bernama Nadezhda atau Nad. Bastet adalah yang bertama-tama ditemui mereka, yang diselamatkan oleh Beliau dari kamar paling berantakan sedunia (hal. 10-14). Kemudian Nad si kecoa diselamatkan Beliau dari ruang penyiksaan di luar angkasa yang berbentuk menyerupai ubur ubur (hal. 21-28).
Ada kesan bahwa yang digambarkan melalui dua penyelamatan itu sebenarnya adalah penyelamatan pada diri pengarang sendiri. Pengarang menganggap dirinya sebagai kucing dalam kamar paling berantakan sedunia, atau juga kecoa dalam ruang penyiksaan, sebelum akhirnya diselamatkan dan menjalani petualangan sebagai seorang pengarang novel. Bagian Tentang Penulis di akhir buku menguatkannya, dengan pernyataan pengarang bahwa dia menghabiskan masa remaja di kolong meja sebagai kucing, hidupnya tinggal bersama kecoa, serta dapat ditemui dalam kostum ubur-ubur (hlm. 262).
Petualangan Bus Damri berlanjut dengan mengarungi lebih banyak tempat di bumi maupun luar angkasa, dari masa lalu hingga masa depan. Dia menyaksikan Beliau menyelamatkan beberapa orang lagi, dan menghukum beberapa orang lainnya. Dari situ Bus Damri belajar banyak tentang Beliau. Dia mengamati hal-hal yang membuat Beliau bahagia, juga yang membuat Beliau marah ataupun sedih, termasuk cara Beliau mengekspresikannya. “Kebahagiaan beliau melahirkan bintang. Kesedihan beliau membunuh keajaiban. Kemarahan beliau berakibat fatal” (hal. 62).
Bus Damri juga menyaksikan keajaiban Beliau melalui kemampuan menjahitnya. Beliau menjahit boneka-boneka untuk melindungi anak-anak, menjahit hati yang terluka, menjahit bedong bayi untuk menentukan alur nasib bayi itu kelak, juga membongkar ulang jahitan nasib seseorang untuk mengubah kisah hidupnya (hal. 34, 46, 130, dan 132). Pada satu kesempatan juga diceritakan Beliau menebarkan permen-permen dan gulali di luar angkasa untuk menciptakan galaksi (hal. 65-68).
Ada banyak hal yang mengarahkan pada dugaan bahwa yang digambarkan pengarang melalui tokoh Beliau ini adalah Tuhan. Pada satu bagian cerita juga disebutkan seorang wanita menyebut Beliau dengan nama Gusti, meskipun Beliau juga tidak keberatan untuk tetap dipanggil Beliau (hal. 86).
Di bagian akhir-akhir cerita, diceritakan pula Beliau adalah seseorang yang menciptakan dunia, mengakhirinya, serta yang menciptakannya sekali lagi. Ada adegan kiamat dalam novel ini, yang diawali kemunculan anak laki-laki jahat yang sebelah matanya menutup, yang menyebut dirinya sendiri Tuhan (hal. 213). Di dunia nyata, tokoh yang terakhir ini bisa diasosiasikan dengan Dajjal yang diramalkan akan muncul di penghujung zaman.
Dengan demikian sebenarnya isi novel ini berat. Namun penyajiannya ringan. Pada akhirnya, penilaian bobot novel ini tergantung pembaca, karena sebenarnya yang perlu berpetualang di sini adalah Ziggy sendiri melalui perenungan-perenungannya ketika mengarang novel. Kita, pembaca, cukup membaca dan menikmati saja! Atau, tergoda ikut merenung?

Tentang Surat-Surat Ade Ubaidil

Judut Buku   : Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu
Penulis          : Ade Ubaidil
Penerbit        : BasaBasi
Tahun Terbit : 2017 (cetakan pertama)
Jenis Buku    : Kumpulan Cerpen
.
.
Katakanlah... ini adalah ulasan dari saya setelah membaca kumcer salah seorang teman baik saya yang bernama Ade Ubaidil.
.
Penulis yang satu ini memang sedang naik daun. Namanya sepertinya sudah tenar di Banten sana sebagai salah seorang seniman/sastrawan angkatan mutakhir, sedangkan di kancah nasional dia juga lagi nge-hits terutama setelah keikutsertaannya pada ajang Ubud Emerging Writter Festival yang tersohor itu. Sedangkan hubungan antara dia dengan saya....
.
Baikah! Saya akui, saya cuma sempat bertemu sekali dengan Ade pada 2014 lalu pada sebuah acara pelatihan menulis di Jogja. Setelah dua hari pelatihan, sempat juga kami jalan-jalan di Prambanan. Selebihnya, setelah kami sama-sama pulang ke kota masing-masing, cuma ada hubungan dunia maya di antara kami.
.
Tapi, bukankah selalu dikatakan “ada gula ada semut”? Jadi, mumpung Ade Ubaidil sedang menggula di kesusastraan nasional, izinkan pula saya menjadi semut-semut nakal yang mengaku-ngaku sebagai teman baiknya.
.
Hehe.... Toh saya yakin Ade juga tidak akan menolak saya menyebut dirinya demikian.
.
Oke, dalam buku kumcer ini ada beberapa cerpen yang sudah saya baca sebelumnya, karena beberapa memang sudah pernah diterbitkan di media-media koran ataupun majalah. Misalnya cerpen “Jejalon Ibu” yang pernah terbit di Republika dan “Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen” yang nongol di Femina. Kedua cerpen tersebut seingat saya sudah pernah saya komentari, sudah saya sampaikan ke Ade juga, dan rasanya tidak perlu saya ulangi di sini. Selain itu, ada juga cerpen “Pesawat Kertas dari Bawah Tanah” yang juga sudah saya baca sebelumnya (untuk yang ini saya membaca versi pra-terbitnya), sudah saya komentari langsung juga pada Ade, juga tidak akan saya ulangi komentar itu di sini.
.
Ada sembilan belas cerpen Ade di buku ini. Dipotong tiga tadi, berarti sisanya enam belas. Dari keenambelas itu, yang paling saya sukai adalah yang judutnya “Kupu-Kupu Kematian”. Mengapa? Lebih karena saya suka aja, sih.... Hehe.
.
Alasan yang kaya’ gitu mungkin bakal bikin saya kena hajar dosen kalo lagi nulis kritik ilmiah. Tapi berhubung ini hanya ulasan yang semau-mau  saya, ayolah.... Boleh, kan?
.
Cerpen “Kupu-Kupu Kematian” itu, ketika saya membacanya, saya merasakan horornya keren (jadi cerpen itu memang cerpen horor). Ceritanya tentang psikopat, tapi anak-anak, dan ada gambaran kasih sayang orangtuanya meski tahu anaknya punya kelainan itu. Meski horor, mistisnya nggak keras. Nggak ada pocong-pocongan, kuntilanak, gendruwo, atau sejenisnya. Cuma ada mistisme yang sangat-sangat halus dan lembut, dengan penggambaran munculnya kupu-kupu setiap ada korban dari tuh anak psikopat, dan itu bagi saya lebih berefek menguatkan imajinasi saja daripada buat kehororannya. Dan, meski horornya tentang psikopat, sisi psikopatnya juga nggak hardcore amat, nggak seperti film-film horor sadis Barat. Poko’e good job, lah, meski bukan god job. (Halah....)
.
Cerpen kedua yang saya sukai judulnya “Memata-Matai Kerja Penulis”. Ini cerpen dia alamatkan pada Ken Hanggara, seorang penulis muda yang kabarnya berasal dari satu kota yang sama dengan saya (Sidoarjo) tapi malah tidak pernah saya ketemu dengan dia, sehingga saya juga nggak kenal langsung dengan Ken kecuali melalui tulisan-tulisannya. Alasan saya suka dengan dengan cerpen ini barangkali salah satunya karena kekaguman yang sama (seperti yang digambarkan Ade dalam cerpen ini) pada produktivitas Ken dalam menulis cerpen. Selain itu, saya menyukai keliaran fantasi Ade dalam cerpen ini, terutama pada bagian yang menceritakan seorang kakek menebas pelangi lalu menyeretnya ke dalam sebuah gudang tua seperti menyeret lembaran kain yang sangat panjang. Lagi-lagi, sepertinya penilaian saya terhadap cerpen kedua ini juga subjektif, ya?
.
Adik saya yang juga membaca kumcer ini (mungkin perlu saya sampaikan adik saya ini perempuan dengan usia 22 tahun dengan latar belakang frash graduate Pendidikan Kimia) menyukai cerpen “Kiai Peci Miring”. Sepertinya dia suka dengan plot realisme magis di cerpen ini, berikut dengan idenya yang dekonstruktif terhadap pandangan umum masyarakat kita. Saya sendiri tidak sangat terkesan dengan cerpen ini karena bagi saya klimaksnya terlalu mirip (atau bahkan ngeplek) dengan dongeng yang pernah saya dengan dari Ustadz saya dulu ketika masih kecil (dan sepertinya dongeng seperti itu memang sudah menyebar luas di TPQ/TPA dan pesantren) tentang seorang kiai yang ketika membuka mulutnya (setelah makan makanan haram) tampak samudra di belakang anak tekaknya nya. Isi pesan dalam cerpen ini mirip dengan cerpen lain dalam buku ini yang berjudul “Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka”. Saya sendiri lebih menyukai cerpen “Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka” itu daripada “Kiai Peci Miring”.
.
Secara umum, cerpen-cerpen Ade dalam kumcer ini, termasuk juga dua cerpen yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya, saya rasa tidak akan membuat kami yang sudah mengenal Ade jauh-jauh hari merasa kaget. Bukan berarti cerpennya nggak bagus, lho, ya.... Maksud saya, isi dari cerpen-cerpen itu memang menunjukkan begitulah Ade. Siapa Ade, bagaimana idealismenya, pandangan politiknya, pendangan keagamaannya, obsesinya di bidang kepenulisan (sastra), bahkan juga derita percintaan dan kejombloannya, apa yang saya kenal tentang Ade, serasa saya baca ulang melalui cerpen-cerpen dalam buku ini. Jadi, dapat saya katakan bagi yang belum mengenal Ade, kenalilah dia dengan membaca cerpen-cerpen di sini.
.
(Pssst... lagi-lagi saya ngaku-ngaku sok kenal, padahal.... Haha....)
.
Beberapa cerpen kuat menyinggung salah satu pilihan tema yang saya sebutkan tadi. Misalnya “Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka” dan “Kiai Peci Miring” yang menerangkan pandangan keagamaan Ade (terutama menyikapi radikalisme agama dan kebiasaan sok benar sendiri beberapa golongan kaum beragama), lalu “Gunung Pinang dan Roti Pengganjal Perut” serta “Nenek Penunggu Kereta” yang menyuarakan pendapat Ade tentang perpolitikan dan pembangunan lokal di daerahnya, cerpen “Bahan Bakar Terakhir di Dunia” yang bagi saya terdengar seperti pembelaan politis Ade terhadap tokoh yang dia pilih di Pemilu lalu, lalu “Balada penyair” dan “Cerita Tentang Penulis yang Menulis Buku Tip Menulis” yang menceritakan kegundahan Ade dalam perjalanan pilihannya menjadi penulis, atau “Jari dan Cincin” cerita mini yang menceritakan kegalauan cowok yang lagi patah hati itu.
.
Namun, secara lebih sempurna tema-tema yang saya sebutkan tadi saya temukan di cerpen-cerpen Ade sebagai serpihan-serpihan. Pandangannya tentang ini muncul sedikit di sini, sedikit muncul di sana, atau kadang diulangi lagi di tempat lain. Begitulah kebanyakan. Dan yang paling sering muncul sebagai serpihan....
.
Hmm....
.
Percaya atau nggak percaya, silahkan! Toh dari awal saya sudah bilang bahwa ulasan ini banyak subjektifnya, karena dibuat dengan semau-mau saya saja, nggak ilmiah blasss....
.
Menurut saya, salah satu serpihan yang sering sekali muncul di dalamnya adalah soal kegalauannya cintanya. Percayalah! Saya tidak “semain-main-itu” ketika mengatakan ini. Cobalah amati ketika kalian membaca buku ini nanti, dari kesembilan belas cerpen berapa cerpen yang tokoh utamanya jomblo? Jawabannya adalah hampir semuanya. Lalu, dari cerpen-cerpen tersebut, hitung pula berapa kali Ade secara eksplisit merutuki/menyesalkan/menggalaukan nasib tokoh sebagai jomblo? Pokoknya banyak.
.
Yang parah lagi, setidaknya dalam dua cerpen, yakni “Keluarga Rasyid” dan “Lelaki dan Sesuatu yang Hilang dalam Dirinya”, Ade malah memunculkan sosok tokoh utama berusia empat puluhan yang sudah lumayan sukses, tapi juga masih jomblo. Dan dengan eksplisit dia menyebutkan istilah ‘bujang lapok’ di sana. Alamak.... Ayolah, De...! Saya percaya kamu tidak akan bernasib sesial itu. Kamu penulis, dan kamu pasti bisa segera punya pacar lalu menikah.
.
Tapi, entahlah! Saya nggak tahu juga. Meski saya yakin serpihan-serpihan itu memang banyak berserakan di sana, saya nggak tahu apa memang Ade sengaja memunculkan itu, atau mereka mencul secara tidak sengaja, atau saya yang ngebacanya saja yang lagi sensitif dengan tema itu sehingga meskipun keberadaannya sangat lamat di sana tapi jadi kelihatan kasat di mata saya.
.


Lha masalahnya, saya juga jomblo, sih....

Rabu, 21 Oktober 2015

Kisah Pejuang yang Terbuang(Resensi Buku "Dari Rimba Aceh ke Stockholm")



Judul Buku      : Dari Rimba Aceh ke Stockholm
Penulis             : dr. Husaini M. Hasan
Penerbit           : Batavia Publishing
Tebal               : 509 + xxiv
ISBN               : 978-602-71-4200-8



Buku ini menyajikan sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam narasi menarik, lengkap dengan diskripsi latar yang apik. Terutama ketika menggambarkan suasana rimba Aceh. Membaca buku ini akan menyadarkan kita betapa luar biasanya hutan hujan tropis.
Dr. Husaini adalah seorang pejuang GAM yang mendampingi Tengku Hasan di Tiro, Wali Negara Aceh, selama bergerilya di hutan Aceh hingga mendirikan markas GAM di Stockholm, Swedia. Selama itu dia mengemban tiga jabatan, yakni Sekretaris Negara, Menteri Pendidikan, dan Menteri Penerangan GAM.
Sejak meninggalkan anak istri serta karirnya pada 1977, dia mulai berjuang bersama GAM dengan bergerilya di rimba Aceh. Tidak mudah. Medan gerilya meliputi hutan lebat, rawa lumpur, dan perbukitan curam. Terbatasnya ketersediaan makanan dan kejaran tentara Indonesia juga selalu mengancam keselamatan. Binatang penggigit seperti lintah, kalajengking, dan lipan kerap menyerang. Ada pula binatang-binatang besar, tapi lumrahnya mereka tidak menyerang bila tidak merasa terancam.
Penulis menceritakan Tengku Hasan di Tiro berkali-kali menekankan GAM adalah gerakan politis. Tekanan tentara Indonesialah yang memaksa GAM mengangkat senjata. Adapun yang dilakukan dalam gerilya itu adalah menyusun pemerintahan GAM dan menyebarkan semangat Aceh Merdeka.
Pada 1988, dr. Husaini mendapat mandat ke luar negeri dengan untuk mencari Wali Negara yang sudah terlebih dulu berangkat. Malaysia menjadi pelabuhan pertamanya. Dia berangkat menaiki perahu kecil yang ditekongi seorang bernama Shaiman. Tak disangka, petualangan di Malaysia membawanya berkenalan dengan UNHCR yang kemudian membantunya  mendapat suaka di Swedia. Itulah awal dari boyongan GAM hingga bisa bermarkas di Stockholm, Swedia.
Dr. Husaini adalah orang paling berjasa dalam pendirian markas GAM di Stockholm. Tapi justru setelah itu dia mendapatkan fitnah yang merenggangkan hubungannya dengan Wali Negara, hingga tersingkir dari GAM. GAM pun pecah berkubu-kubu, yakni GAM MZ (Malik-Zaini) dan MB GAM yang diketuai dr. Husaini. Di Malaysia, muncul Majelis Pemerintahan GAM (MP GAM) sebagai wujud penolakan pengangkatan Malik sebagai perdana menteri GAM. Adapun Tengku Hasan di Tiro saat itu sakit-sakitan sehingga mudah diperalat GAM MZ.
Mengenai diperalatnya Wali Negara, penulis menceritakannya melalui kutipan percakapan Teuku Sarong dan Wali Negara.
Saat itu Teuku Sarong mengingatkan Wali Negara:
“Pak Cik, kita sudah dibohongi oleh orang-orang yang sudah menjual Aceh. Kita sudah dipisahkan dari teman-teman yang setia kepada perjuangan kita.” (hal. 360)
Jawaban Tengku Hasan di Tiro adalah:
“ ‘Lalu bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya sendiri sudah berada dalam perangkap mereka,’ ucap Wali Negara.” (hal. 360)
Akibat difitnah, sampai wafatnya Tengku Hasan di Tiro, dr. Husaini tidak bisa menemui Tengku Hasan di Tiro kecuali pertemuan tak disengaja di sebuah swalayan. Kubu Malik-Zaini seolah sengaja menjauhkan Wali Negara darinya. Menjelang perjanjian Helsinky, 2005, Wali Negara berkali-kali minta dipanggilkan dr. Husaini, tapi tidak pernah dilakukan.
“‘Di mana dokter Husaini, mengapa belum datang?’ tanya Tengku Hasan M. di Tiro lagi pada pertemuan selanjutnya.
‘Kami sudah memberitahu dia supaya datang menjumpai Tengku, tetapi lewat telepon, ia mengatakan tidak mau datang dan tidak peduli lagi tentang Aceh Merdeka!’ ucap mereka menipu Wali Negara.” (hal. 402)
Ini membuktikan betapa politik kotor tidak hanya ada pada sebuah negara yang merdeka, tapi juga meracuni sebuah organanisasi yang sedang mencari kemerdekaan.
Dengan ditandatanganinya perjanjian Hensinky, pergerakan Aceh Merdeka berakhir. Hasilnya mungkin tidak sesuai keinginan dr. Husaini yang menginginkan Aceh merdeka, lepas dari Indonesia. Tapi, bukan berarti dia harus tidak mematuhi perjanjian tersebut. Sebab, seperti yang dinasihatkan Hj. Azimar, janda pejuang GAM yang dimuat pada bagian akhir buku ini: “Tuhan tidak memberikan yang kamu inginkan, tapi memberikan yang kamu butuhkan” (hal. 473).
Mungkin, Tuhan memang memutuskan bahwa Aceh sebagai bagian dari NKRI adalah yang terbaik.

Kamis, 24 Juli 2014

Prinsip Kepemimpinan sang Samurai


Adalah Toyotomi Hedeyoshi, seorang pelayan Lord Nobunaga yang akhirnya mampu mampu menyatukan Jepang kuno setelah adanya persaingan keras antar klan. Dia menyebut dirinya “Samurai Tanpa Pedang”.
Hodeyoshi bukan seseorang yang lahir dari kalangan pemimpin. Dia hanya seorang anak petani. Dia lahir di abad 16. Pada masa itu, Jepang mengalami kericuhan akibat berbagai konflik antar klan. Setelah dewasa, Hideyoshi mengabdi kepada Lord Nobunaga. Dan ketika tuannya itu mati, dia memutuskan untuk meneruskan cita-cita tuannya, yakni menyatukan seluruh jepang.
Berikut adalah prinsip-prinsip kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi yang membuatnya mampu meraih kesuksesan menyatukan seluruh Jepang.
1.       Fokuskan pada tindakan memberi
2.       Jadiilah orang yang pertama memaafkan
3.       Untuk mendapat kepercayaan, berilah kepercayaan
4.       Menggunakan keluasan informasi untuk mengasah persepsi
5.       Menghargai komitmen
6.       Tidak memanjakan diri dalam linangan kekuasaan
7.       Tidak sombong
8.       Tidak melakukan sesuatu dengan tujuan pamer
9.       Cepat dalam bergerak
10.   Optimis
11.   Jadilah pemimpin, bukan atasan
(Seorang atasan mengerakkan bawahan dengan perintah dari atas ke bawah. Seorang pemimpin menggerakkan pengikutnya dengan inspirasi berdasarkan visi yang disampaikannya.)


 
 
 
 
 
 
 Sumber: Muhammad, Najamuddin. 2009. Nyanyian Jiwa sang Samurai. Yogyakarta: BukuBiru

Selasa, 18 Februari 2014

Review: SELALU ADA PILIHAN


SELALU ADA PILIHAN
Penulis    : Susilo Bambang Yudhoyono
Penerbit : Kompas, 2014

Sistem pemerintahan Indonesia sekarang sudah sama sekali berbeda dengan Indonesia dulu. Dulu otoriterian, sekarang demokrasi. Dulu wewenang presiden tidak terbatas. Bisa seenaknya menetapkan konstitusi. Punya wewenang membubarkan parlemen/DPR. Punya hak mengumumkan perang dengan negara lain. Sekrang tidak lagi. Undang-undang ditetapkan oleh legislatif, presiden hanya mengusulkan. Tidak berwewenang membubarkan parlemen, bahkan parlemen yang punya hak memberhentikan presiden. Mengumumkan perang harus dengan persetujuan parlemen. Hal-hal yang menunjukkan bahwa sejatinya sistem pemerintahan kita bergerak menuju semi parlementer. Bukan mutlak presidensial lagi.

Hal diatas adalah sedikit dari banyak hal yang dibahas oleh SBY dalam bukunya, “Selalu Ada Pilihan”.

Secara umum buku ini terbagi dalam 4 bab: “1. Inilah Negara Kita Saat Ini”; “2. Asal Tahu, Beginilah jadi Presiden”; “3. Ingin Jadi Presiden, Menangkan Pemilu Mendatang”; dan “4. Semoga enjadi Presiden yang Sukses”; ditambah dengan pendahuluan “Sudah Siapkah Kita?” dan penutupan “Melangkah ke Depan: Peluang dan Pilihan Selalu Ada.” Sesuai dengan judul keempat babnya, SBY melalui buku ini mengajak Pecinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Mendatang untuk melihat realitas di Indonesia pada masa kini, lalu berkisah tentang suka duka beliau selama menjadi presiden, dilanjutkan dengan nasihat-nasihat untuk para penerus bangsa yang ingin menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Sempat saya berharap—meskipun sebenarnya sadar bahwa itu tidak mungkin—dalam buku ini SBY akan membocorkan sedikit hal-hal yang sifatnya dirahasiakan oleh pemerintah selama ini. Dan seperti yang saya duga, tidak ada. Kecuali beberapa hal yang sifatnya rahasia pribadi atau beberapa hal yang bukan rahasia tapi salama ini saya belum tahu. Misalnya sebelum menuju pilpres 2009, SBY terlebih dahulu menanyakan kesediaan anggota keluarga beliau—istri(Ani Yudhayono), anak-anak (Agus Harimurti dan Edhie Baskoro), serta menantu (Anisa Pohan)—untuk mengijinkan beliau mencalonkan lagi sebagai presiden. Pasalnya selama 5 tahun majasa batan pertama beliau, keluarga mau tidak mau juga menerima pedasnya kritik miring, bahakn fitnah keji dari pers dan lawan politik. Sebut saja Ibu Ani dibilang nasrani, Agus Harimurti dibilang sempat meninggalkan tugas ketika menjadi bagian pasukan perdamaian di Lebanin, hingga Ibas (Edhie Baskoro) dikatakan suka memakai pakaian lengan panjang karena tangannya penuh bekas jarum suntuk dan silet (artinya pemakai narkoba). Selain itu, ada pula cerita ketika DK PBB membahas resolusi mengenai isu nuklir Iran (2007)—saat itu Indonesia menjabat sebagai anggota DK PBB—Prsiden RI sempat menolak menerima telepon dari Presiden Iran, Presiden Ahmadinejad, dan Presiden Amerika Serikat, Presiden Bush.

“Pak Presiden, barangkali Bapak adalah Presiden pertama di dunia ini yang tidak mau menerima teleponnya Presiden Amerika Serikat.” {SBY mengutip kelakar Dr. Dino Patti Djalal (Staf Khusus Presiden Hubungan Internasional) dalam Selalu Ada Pilihan: 165)

Ditanya idealisme yang disampaikan SBY dalam buku ini, jelas. Sama dengan sikap dan ucapan beliau selama ini. SBY mendukung demokrasi di Indonesia beserta seluruh proses yang harus dijalani. Sekalipun, justru sebenarnya selama 9 tahun ini beliau adalah korban dari demokrasi kebablasan di Indonesia. Kritik, kecaman, hujatan, cacian dari pers, lawan politik, maupun para demonstran. Beliau hanya berharap Indonesia akan mencapai demokrasi yang lebih matang pada masa mendatang. Beliau mengharapkan peran pers yang debih seimbang dalam menyambaikan berita, juga sikap dewasa dari para elit politik di Indonesia.

Mengenai politik luar negeri, tetap dengan politik bebas aktif. Yang selama pemerintahan beliau diwijudkan dalam kebijakan thousand friends zero enemy.

Ada yang menarik mengenai rahasia bagaimana beliau bisa tahan menghadapi cacian, hujatan, dan makian selama ini. Salah satunya adalah karena beliau percaya bahwa ucapan-ucapan miring itu tidak mewakili kebanyakan isi hari rakyat Indonesia. Semuanya kelihatan besar hanya karena diblow up oleh media-media besar. Buktinya nyata. Pada 2004, sekalipun saat itu SBY dihajar oleh media-media besar dengan hujatan dan cacian, nyatanya tetap terpilih kembali dengan jumlah suara dan presentase kemenangan lebih besar. Selain itu, beliau melihat pula hasil survey dari 3 lembaga (tidak disebutkan namanya), SMS dan surat yang masuk ke Presiden, serta spontanitas rakyat ketika beliau berkunjung ke daerah. Tiga hal di atas menunjukkan positif, SBY dicintai rakyatnya.

Satu lagi review yang ingin saya bagikan. Awalnya SBY tidak berpikir untuk menjadi presiden. Beliau hanya menginginkan beberapa jabatan lain yang tidak setinggi itu. Itupun ternyata gagal dia raih. Pada saat menjadi bagian Angkatan Darat TNI, beliau sangat ingin mencapai jabatan KepalaStaf Angkatan Darat (KSAD). Tidak kesampaian. Meski namanya sudah diusulkan oleh Panglima TNI saat itu ( Jendral Wiranto), Presiden Gus Dur menolaknya. Alasannya Gus Dur meminta SBY menjadi menteri. SBY terpaksa mengalah meski sebenarnya beliau jauh lebih menginginkan jabatan KSAD dibanding menjadi menteri. Bahkan pada dua masa pemerintahan sebelumnya, SBY sebenarnya juga sempat diajak menjadi menteri tapi dia tolak demi mengejar impian menjadi KSAD. Pada masa selanjutnya, SBY juga sempat ingin menjadi wakil presiden. Yakni pada pemilihan wakil Presiden Megawati, yang pada akhirnya SBY kalah dari Hamzah Haz. Dua kali SBY gagal mencapai cita-citanya. Tapi dia ikhlas menerima. Akhirnya, tidka jadi wapres dia malah jadi presiden. Tidak jadi KSAD malah jadi panglima tertinggi TNI. SBY berharap pemimpin masa depan Indonesia belajar darinya. Mau jadi presiden, harus siap ikut pemilu. Ikut pemilu, harus siap kalah dan siap menang. Toh, asalkan mau menerima dengan legowo dan belajar dari kesalahan, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.