Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Jumat, 17 Agustus 2012

Semarak Hari Merdeka di Dunia Maya

 Hari raya kemerdekaan tidak hanya semarak di lapangan-lapangan upacara. Di dunia maya, laman-laman web terutama yang berbasis di Indonesia juga ikut menyemarakkannya.
Beberapa situs populer menambahkan aksen-aksen Hari Kemerdekaan pada logo mereka seperti yang dilakukan situs berita Kompas.com dan forum dunia maya terpopuler seIndonesia, Kaskus.





Beda lagi dengan situs berita pelat merah, Antaranews.com. Antaranews menampilkan header logo Antaranews disandingkan dengan  slogan 67 tahun kemerdekaan RI.
 *Note: aslinya berupa gambar bergerak. semacam flash player.


Viva.co.id menampilkan gambar latar di kiri berupa gambar perlombaan panjar pinang, dan di kanan bendera merah putih dan bambu runcing.
Hampir serupa dengan Detik.com. Hanya, Detik menampilkan bendera di kiri dan panjat pinang di kanan. Berkebalikan dengan Viva.co.id




Mungkin cuma Google.co.id yang secara khusus mengganti logonya dengan logo 17 Agustus. Mereka mendesain logo dengan gambar-gambar aneka perlombaan yang lazim ada di perayaan 17 Agustus. (meskipun saya yakin bahwa tahun ini pada 17 Agustus, penyelenggaraan lomba-lomba seperti itu sangat minim karena mepet lebaran)
  



 Dan ini gambar latar baru Diskusiwarungkopi.blogspot.com untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia.


Minggu, 12 Agustus 2012

Mbah Profesor yang Masih Semangat



Beliau adalah idola saya ketika masih kecil. Dan sampai sekarang masih menjadi idola saya meskipun saya gagal mengikuti jejak beliau untuk menjadi seorang insinyur.

Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Namanya super populer di penghujung tahun sembilan puluhan sampai kemudian secara tragis beliau harus meninggalkan negara tercinta Indonesia Raya dan kembali ke Jerman.

Saya ingat ketika masih kecil dulu beliau disebut-sebut sebagai orang super jenius. Orang paling pintar se-Indonesia, bahkan beberapa orang menyebut sedunia (lebay memang sih). Beliau populer sebagai orang Indonesia yang mampu membuat pesawat terbang bahkan sampai diangkat dalam lagu hits anak-anak yang dibawakan salah satu artis cilik terpopuler saat itu, Joshua.

“Cita-citaku, uu uu, ingin jadi profesor
Bikin pesawat terbang, seperti Pak Habibie”

Anak muda sekarang yang berusia +- 20 tahunan, siapa yang gak tahu lagu ini?

Sempat down setelah ditinggal pergi untuk selamanya oleh istri tercinta, beliau bisa segera bangkit kembali. Menurut penuturan beliau, beliau sempat nyaris gila setelah meninggalnya Ibu Ainun Habibie, istrinya.

“Benar, itu memang benar. Malam hari,  di rumah saya sendirian tidak pakai alas kaki, tidak pakai baju piyama. Saya merasakan sedih yang teramat  dalam. Saya bertanya sendiri. Kemana Ainun? Kemana dia? Kok bisa pergi?”

Hebatnya, saat itu (karena memang sebagai seorang tokoh besar dunia) dokter-dokter Jerman dan Indonesia yang ada di Jerman langsung merasa mereka harus membantu Pak Habibie tanpa diminta. Mereka berembug. Dan hasilnya mereka sepakat, Pak Habibie harus segera ditolong. Kalau tidak dia bisa mati karena sedih. Tiga macam opsi diberikan pada Pak Habibie, yakni; dirawat di RSJ;  dirawat di rumah dengan pantauan tim dokter; dan yang ketiga beliau harus menulis buku tentang istrinya. Singkatnya beliau memilih pilihan ketiga dan jadilah buku “Habibie dan Ainun”.

Sebagai seorang senior, Pak Habibie tak berhenti bekerja keras. Ketika banyak orang sudah hampir menyerah dan pesimis terhadap dunia kedirgantaraan Nasional, beliau tetap menunjukkan sikap pantang menyerah. Hal itu ditunjukkan dengana apa yang dilakukannya baru-baru ini.

10 Agustus 2012 lalu, seusai upacara peringatan Harteknas, Prof. Habibie mengumunkan pembentukan PT RAI (Ragio Aviasi Industri). Proyek pertama dari perusahaan ini adalah untuk membangkitkan pesawat turbopropeler N250 yang telah menjadi primadona pada Indonesian Air Show 1996 namun proyeknya berhenti pada 1997 karena krismon.

Perusahaan ini dibentuk bersama dua perusahaan swasta yakni PT Ilhabi Rekatama milik Ilham Akbar Habibie dan PT Modal Elang milik mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah. Beliau juga mengungkapkan bahwa beliau juga akan mengajak eks karyawan IPTN yang kini tersebar di berbagai belahan dunia. Beliau juga mengatakan bahwa nantinya, dalam proyek pertama ini PT RAI tidak akan bekerja sendiri, namun juga melibatkan elemen lain seperti Kemenristek, BPPT, dan PT DI.

Sebagai penonton, saya hanya bisa berharap dan berdoa semoga akhirnya N250 kebanggan Indonesia ini akhirnya bisa terwujud dan mengangangkasa dalam jumlah banyak di langit Nusantara, bahkan Desantara, Dwipantara, Yawana, Jenggi dan Eropa*. Tapi mesti sabar, kata si Mbah, setidaknya butuh lima tahun untuk bisa melihat hasil dari berdirinya PT RAI ini.


So. Yok, si Mbah masih semangat. Ayo, kita juga semangat!

Let Be Optimist, Fight for Our Nation!


*ket: Nusantara=Wilayah yang sekarang meliputi Indonesia, malaysia, filipina, termasuk juga Australia dan negara-negara kecil di sekitarnya. Desantara=negara kawasan Asean selain Nusantara. Dwipantara=China dan India. Jenggi=Afrika.
Merupakan istilah-istilah yang dipakai pada naskah-naskah jawa kuno.

Senin, 30 Juli 2012

Maritime Challenge Indonesia meraih Spirit of Atlantic Challenge di Irlandia Utara


Nyebrang dikit dari kehingar-bingaran olimpiade 2012 di pulau Britania. Kita menuju Irlandia Utara, tepatnya pantai Bantry Bay, tempat diadakannya event Atlantic Challenge 2012 – international contest of seamanship – .

Keikut sertaannya sebagai satu-satunya peserta dari Asia Pasifik pada acara internasional dua tahunan tersebut tidak sia-sia. Tim Maritime Challenge yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa ITS dan PPNS, Surabaya itu berhasil menyabet gelar prestisius  “Spirit of Atlantic Challenge”.

"Itu penghargaan untuk tim terbaik dalam kerja sama dengan negara lain. Karena kompetisi itu bukan sekadar kompetisi kebaharian, namun bagaimana membangun spirit kebaharian dan menjalin kesepahaman antarbangsa," Bapak Prof. Daniel M. Rosyid, pembina UKM Maritime Challenge.


Selain itu, kapal “Rojo Segoro” yang dipakai tim ini selama perlombaan juga mendapat penghargaan khusus sebagai "The Best Beautiful Boat in Contest". Kapal ini merupakan kapal yang telah susah payah dibangun sendiri oleh anak-anak Maritime Challenge di bengkel PPNS. Seluruh tim dan semua elemen lain yang terlibat di dalam pembuatan "Rojo Segoro" sudah pasti sangat bangga dengan gelar ini.

Perlu diketahui pula, tim Maritime Challenge adalah satu-satunya tim yang menggunakan kapal buatannya sendiri di event ini.

Selain dua penghargaan diatas, tim juga mendapatkan dua sertifikat lomba terbaik. Yakni juara ketiga untuk kategori L'Esprit (kerja sama tim dengan tim negara lain untuk menyelesaikan race) dan juara kedua dalam kategori "Rowing" (lomba dayung sejauh dua mil laut).

Keberhasilan ini sangat luar biasa mengingat betapa jauhnya perjalanan yang harus ditempuh tim dari Surabaya, Indonesia ke Bantry, Irlandia Utara. Tim Maritime Challenge, Indonesia adalah tim dari negara terjauh sekaligus satu-satunya dari Asia Pasifik. Selain itu, mereka membangun kapalnya sendiri dan melakukan persiapkan sendiri – termasuk menggalang dana sendiri –. Sebuah balasan yang pantas bagi yang sudah bekerja keras.

So, semangat kawan! Keberhasilan kalian akan menginspirasi anak-anak muda lain di negara ini.

We fight for our nation and the rediscovery of our rich maritime heritage!

Senin, 16 Juli 2012

Mempelajari BHINEKA TUNGGAL IKA dari Sumbernya


Semua orang tahu semboyan Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetap satu jua. Ketika ditanya dari mana semboyan itu berasal, saya rasa sebagian besar tahu bahwa ungkapan itu tercantum dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Tapi, pernahkah anda membaca kitab itu? Tahukah anda apa isi kitab itu? Dan pada bagian mana Bhineka Tunggal Ika disebutkan?

Kebetulan saya punya buku itu. Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular terbitan Komunitas Bumbu yang disertai terjemahan oleh Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo. Akan saya sampaikan sinopsisnya.

Berbeda dengan Negarakretagama yang merupakan catatan nyata Sang Mpu Prapanca selama mengikuti perjalanan Raja Majapahit mengelilingi kerajaan, Kitab Sutasoma sepertinya lebih bernilai sasta daripada sejarah. Bisa dibilang kitab ini adalah sekuel dari Mahabarata karena setting tempat ceritanya sama, kerajaan Hastina dan sekitarnya, dan setting waktunya sendiri jauh bertahun-tahun setelah kematian para pandawa.

Tokoh utama dalam Kakawin Sutasoma bernama Sutasoma (disebut juga Mahajina). Dia adalah putra mahkota kerajaan Hastina, lahir dari pasangan Raja Mahaketu dan Dewi Prajnyadhari. Diceritakan dia adalah titisan Batara Jina (Sang Budha) dan ketika kelahirannya mambawa berkah bagi seluruh alam. Yang sakit sembuh, orang albino mejadi tidak albino lagi, orang sakit kulit sembuh, dan seterusnya. Mirip seperti kisah kelahiran Sidharta Gautama.

Dikisahkan Pangeran Sutasoma tumbuh dewasa dengan cepat. Parasnya sangat rupawan sehingga membuat kaum hawa diseluruh kerajaan Hastina jatuh hati padanya. Namun, Sang Sutasoma tidak berminat untuk kawin. Dia tidak ingin menikah, tidak ingin menikmati kebahagiaan dunia. Bahkan tidak ingin menduduki kursi raja Hastina menggantikan ayahnya. Padahal, semua orang sudah menunggu Sutasoma naik menjadi raja karena telah tersohor bahwa dia adalah orang yang sangat pandai lagi berbudi mulia selain sebagai seorng yang rupawan. Satu-satunya keinginannya adalah untuk menjadi pertapa yang itu artinya dia akan melupakan segala urusan duniawi. Padahal, saat itu dunia sedang kisruh karena kekacauan yang dibuat raja raksasa bernama Porusada (merupakan nama dalam wujud jahatnya yang berarti penjagal manusia karena dikisahkan raja Porusada suka memakan manusia, nama aslinya Raja Ratnakanda). Dan telah diramalkan bahwa Sang Titisan Budha inilah satu-satunya yang bisa mengalahkan raksasa itu.

Sutasoma kukuh pada pendiriannya. Maka, berangkatlah ia diam-diam keluar dari kerajaan untuk bertapa di gunung Semeru.

Dalam perjalanan menuju pertapaannya, Sutasoma dibantu oleh pertapa bernama Kesawa. Dalam perjalanannya menuju gunung Semeru, Sutasoma bertemu seorang makhluk jahat berkepala gajah yang bernama Gajawaktra. Dikisahkan, Sang Sutasoma mendatangi Gajawaktra untuk memberinya peringatan agar tidak berbuat jahat lagi. Gajawaktra marah, dia hendak menyerang Sutasoma. Tapi, seketika dia dikalahkan oleh Sutasoma dan akhitnya ia bertobat. Selanjutnya, berturut-turut hal yang sama terjadi pada Nagaraja, seekor naga, dan Ratu Macan. Mereka semua bertobat dan menjadi murid dari Sutasoma.

Setelah sampai di pertapaannya, Sutasoma bertapa sendirian. Beragam cobaan didapatkannya, namun semua dapat dilaluinya. Diceritakan bahwa para dewa di kayangan tidak rela Sutasoma menjadi pertapa. Mereka ingin agar Sang Titisan Budha naik takhta, menjadi raja, memimpin dunia, dan memerangi angkara sehingga damailah seluruh dunia. Untuk itu, dikirimlah dewi-dewi cantik untuk menggoda Sutasoma agar dia terbangun dari tapanya.

Tapi, Sutasoma teguh dalam pertapaannya. Dewi-dewi cantik yang menggodanya tidak dia hiraukan. Hingga akhirnya Dewa Indra yang turun tangan. Dewa Indra menjelma menjadi seorang perempuan yang sangat cantik. Ratusan kali lebih cantik dari dewi tercantik di Kayangan. Namun, Sutasoma tetap teguh. Ia tidak tertarik sama sekali dengan godaan-godaan yang di lancarkan perempuan cantik penjelmaan Indra.

Merasa yang ia lakukan percuma, Indra kembali ke wujud aslinya. Lalu, ia memohon agar Sutasoma membatalkan tapanya. Ia memohon agar Sutasoma berbelas kasih pada seluluh dunia yang akan sengsara jika Sutasoma menjadi pertapa. Jika Sutasoma menjadi pertapa, maka kejahatan tidak ada yang bisa memerangi. Akhirnya, dunia jatuh pada kegelapan dan kesengsaraan. Dengan cara ini, akhirnya Sutasoma bersedia mengakhiri tapanya.

Setelah mengakhiri tapanya, Sutasoma kembali ke kerajaan Hastina. Dalam perjalanan pulangnya, ia melewati Negeri Kasipura, kerajaan milik saudara sepupunya Raja Datraputra. Raja Datraputra disebit pula Raja Dasabahu karena saat bertarung bisa berubah wujud menjadi bertangan sepuluh. Lalu, Sutasoma dinikahkan dengan adik bungsu Raja Dasabahu yang bernama Candrawati. Sutasoma dan Candrawati menikah di sebuah pulau yang sangat indah bagaikan syurga.

Setelah pernikahan itu, Sutasoma pulang ke Hastina dan naik takhtalah ia.

Sementara itu, di tempat lain, dikisahkan Raja Porusada, Sang Raja Raksasa tengah terluka parah dan hampir mati. Lalu, ia memohon pada Batara Kala agar ia disembuhkan. Sebagai gantinya, ia bernazar akan mempersembahkan seratus raja manusia untuk santapan Batara Kala. Permohonan Porusada dikabulkan. Seketika ia sembuh. Setelah itu, mulailah ia berburu raja manusia untuk dipersembahkan hidup-hidup pada Batara Kala.

Porusada menyebabkan banyak perang. Seluruh dunia dibuatnya geger.

Singkat cerita, seratus orang raja telah dikumpulkan Raja Porusada untuk dipersembahkan pada Kala. Tapi, Batara Kala menolaknya. Ia mengatakan bahwa raja-raja itu tidak patut untuk menjadi santapannya. Sebagai gantinya, ia menginginkan raja Hastina. Batara Kala ingin agar Porusada mempersembahkan Raja Sutasoma untuk menjadi santapannya.

Maka, berangkatlah Porusada dengan membawa pasukan dan raja-raja bawahannya berperang ke Hastina.

Dengan cepat, berita itu sampai ke Hastina. Mendengar bahwa Kala menginginkan dirinya, Sutasoma berniat untuk menyerahkan diri. Hal itu demi menghindari jatuhnya korba jika sampai Porusada membawa pasukannya merusak kerajaan. Namun, para kesatria dan raja-raja bawahannya tidak rela. Terutama adalah sang Mahapatih Jayapati dan sepupu raja sendiri, Raja Dasabahu. Maka, berangkatlah pasukan Hastina dengan dipimpin mereka menemui pasukan Raja Porusada dalam perang.

Diceritakan, perang sangat dahsyat. Perang terjadi siang dan malam karena di malam hari, kobaran api menyala terang bagaikan siang. Korban yang jatuh jutaan dari kedua belah pihak. Pada hari0hari terakhir, Mahapatih Jayapati dan Raja Dasabahu juga ikut gugur di medan laga.

Akhirnya, Raja Sutasoma turun sendiri ke medan perang dengan mengendarai keretanya. Keajaiban terjadi mengiringi kedatangan Sang Raja Titisan Budha. Ketika ia lewat, segala kerusakan hilang. Pohon-pohon yang terbakar hijau kembali. Prajurit-prajurit yang mati hidup kembali baik manusia maupun raksasa. Termasuk Mahapatih Jayapati dan Raja Dasabahu juga hidup kembali. Raja Sutasoma mendatangi Porusada untuk menyerahkan diri. Ia rela dirinya dipersembahkan pada Batara Kala asalkan Porusada tidak melanjutkan perang yang akan membawa banyak kesusahan.

Namun, Porusada yang tidak mengetahui hal itu berniat menyerang Sutasoma. Ia mengeluarkan aneka macam senjatanya yang sangat ampuh untuk menyerang Rutasoma. Tapi, semuanya tidak mempan. Akhirnya, ia merubah wujudnya menjadi Kalagnirudra yang sangat menakutkan. Ia seperti hendak menghancurkan dunia.

Melihat hal itu, Para dewa menjadi takut. Lalu, mereka turun dan memelas pada Porusada:
“Tuanku, engkau adalah guru kami. Janganlah melakukan hal ini! Punyailah belas kasih pada makhluk-makhlukmu yang hancur sebelum berakhirnya zaman(yuganta).
Meskipun keberanianmu dilipatkan seribu kali, karena engkau hendak mengalahkan raja Hastina, mustahil engkau bisa melakukannya. Meskipun dia seorang raja, namun beliau adalah titisan Buddha. Dan tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Siwa, raja para dewa.
Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakekatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan hana Dharma Mangrwa)**

Namun, kemurkaan Porusada tidak mereda. Akhirnya, para dewa memohon pada Sutasoma agar memusnahkan kemurkaan Porusada. Sutasoma mengabulkannya. Ia mengeluarkan senjata bajra yang bersinar terang seperti matahari. Sinarnya menerangi Porusada. Dan, seketika, hilanglah keangkaraan Porusada. Ia menjadi jinak, terjernihkan hatinya.

Setelah Porusada menjadi baik, ia memohon maaf pada Sutasoma. Ia mengaku bahwa sesungguhnya ia hanya terpaksa demi menuruti keinginan Batara Kala karena terikat janji. Ia juga memohon agar Sutasoma mengurungkan niatnya menyerahkan diri pada Batara Kala. Namun, Sutasoma menolak. Ia meminta agar Porusada mengantarkannya kepada Batara Kala. Ia harus menyerahkan dirinya agar bisa menyelamatkan seratus orang raja yang tengah disekap di kediaman Kala. Dengan berat hati, Porusada mengantarkannya.

Sesampainya di kediaman Batara Kala, Sutasoma langsung menemui Batara Kala dan mengatakan bahwa ia siap di santap sang Kala asalkan seratus orang raja yang telah dia sekap dibebaskan. Batara Kala menyetujuinya. Ia melepaskan seratus orang raja dan hendak menelan Sutasoma.

Tapi, ketika Kala mulai memasukkan Sutasoma ke dalam mulutnya, ketika tubuh Sutasoma menyentuh pangkal tenggorokan Kala, Kala berhenti menelan. Kejahatan dalam diri Kala telah hilang oleh kesucian hati Sutasoma. Sutasoma menyuruh Kala untuk meneruskan menelannya. Tapi, Kala malah urung menelan Sutasoma. Lalu, dia mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak bermaksud menyantap Sutasoma. Ia mnyuruh Porusada membawa Sutasoma padanya sebenarnya karena mendengar kemasyhuran Sutasoma dalam menjernihkan kejahatan yang ada dalam diri seseorang.

Sejak itu, Batara Kala bertobat. Ia melakukan tapabrata hingga akhirnya berwujud kembali sebagai Hyang Pasupati. Raja Ratnakanda/Porusada juga melaksanakan tapa dengan mengajak banyak raksasa lain. Sejak itu, raksasa tidak lagi berbuat jahat. Dunia aman sejahtera. Raja Ratnakanda akhirnya menjadi pengawal Buddha di Jinalaya. Dia tidak lagi berwujud raksasa.

Demikian kisah yang diceritakan pada Kitab Sutasoma. Yang perlu diperhatikan kitab ini adalah kitab yang ditulis Mpu Tantular untuk menjembatani perbedaan keyakinan antara penganut Hindu dan Budha pada masa kerajaan Majapahit. Karena itu, kalimat Bhineka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa” lebih ditujukan untuk tidak membeda-bedakan antara agama Hindu dan Budha. Sedangkan Bhineka Tunggal Ika yang kita anut sebagai Bangsa Indonesia pengertiannya lebih diperluas. Bhineka Tunggal Ika yang kita anut ialah mengajarkan untuk menghormati setiap perbedaan yang ada pada bangsa ini. Perbedaan suku, agama, bahasa induk, budaya, dan lain-lain. Biarpun berbeda, kita tetap satu, Bangsa Indonesia.

*    Sumber: Buku Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular, penerjemah Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo, penerbit Komunitas bambu, Jakarta, 2009
** Bagian yang berhuruf merah adalah kutipan langsung dari buku sumber halaman 503 baris ke 20-27 diteruskan halaman 505 baris 1-7.

Kamis, 05 Juli 2012

Gemar Menulis: Style Dahlan Iskan yang Saya Suka


lilustrasi dari: http://static.republika.co.id/uploads/images
/detailnews/dahlan-iskan-ilustrasi-_120117150648-798.jpg
Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group, Mantan Dirut PLN, sekarang menteri BUMN, siapa yang tidak kenal?
Kali ini yang saya bahas adalah stylenya sebagai seorang menteri yang khas dibandingkan dengan menteri-menteri lain.

Ada banyak hal yang menarik perhatian dari style Dahlan Iskan. Mulai dari hal kecil seperti wajahnya yang selalu ceria dengan hiasan tawa, dan kebiasaan nyelenehnya memakai sepatu kets bahkan ketika keluar masuk istana negara. Sampai motonya yang dia pakai untuk memimpin kementerian BUMN sekarang, "Kerja, kerja, kerja".

Tapi, sebagai seseorang yang hobi menulis, yang paling menarik perhatian saya adalah bahwa Dahlan Iskan adalah seorang menteri yang aktif menulis. Setelah menjadi meteri pun ia masih sering menulis dan mengisi artikel-artikel di berbagai media, baik koran cetak maupun situs berita internet. Beberapa diantaranya:

Plok Plok Plok di Istana Jogja vivanews
Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan Sebagai Kuntilanak Antaranews
Inisiatif Sendiri Untuk Mencari Solusi Antaranews
Garuda Kalahkan MAS, BatanTek Meng-Asia  vivanews
DLL lah.

Secara pribadi saya sangat menyukai gaya tulisan beliau. Bukan bahasanya, bukan sintaksis atau semantisnya, tapi saya sangat menyukai nada optimis yang selalu dipancarkan pada setiap tulisannya. Bagi saya, itu sangat penting bagi Indonesia yang sedang butuh banyak tenaga pendorong keoptimisan.

Saya tidak pernah bertanya langsung pada Bapak SBY. Tapi, menurut saya memiliki meteri yang suka menulis di berbagai media tentu adalah suatu keberuntungan tersendiri baginya. Atau, jangan-jangan Pak SBY sengaja mencari menteri yang hobi menulis, ya? Entahlah, yang jelas keuntungan yang bisa didapat diantaranya:
  • Rakyat tahu apa yang dilakukan pemerintah (dlm hal ini kemen.BUMN, tapi tak jarang juga Dahlan menuliskan apa yang dilakukan Pemerintah secara global-bukan cm kemen.BUMN-)
  • Mendapat dukungan rakyat.
    Seperti yang saya sebutkan tadi, tulisan Dahlan Iskan sangat optimis. Itu bisa menggerakkan hari rakyat untuk mendukung program-program yang dijalankan pemerintah. Minimal mendoakan lah.
  • Kalau sudah mendapat dukungan rakyat, berarti pencitraan, dong!
    Emang apa salahnya? Sedikit OOT. Menurut saya pribadi, pemimpin harus memiliki citra baik di mata rakyat. Masalahnya, masyarakat itu mudah dihasut. Dari dulu, berita baik selalu lebih mudah menyebar daripada berita baik. Akibatnya, merusak citra seseorang(dlm hal ini pemerintah) sangat mudah dilakukan oleh orang lain(oposisi). Karena itulah pencitraan dilakukan. Jadi, pencitraan penting asalkan bukan melalui jalan kebohongan ajah.
Selain kebiasaan menulisnya, mungkin para pembaca menyukai Dahlan Iskan karena alasan yang lain. Tapi, bagi saya, yang saya ambil dari beliau sebagai inspirasi adalah:

"Kalau Pak Menteri yang sibuk saja masih sempat menulis, kenapa saya tidak?"

Jumat, 22 Juni 2012

PATIL LELE: Permainan Tradisional Indonesia yang Ternyata Juga Populer di Korea

Semua pasti sudah tahu permainan Patil Lele, atau biasa juga disebut Benthik, atau Tek Duk, atau mungkin ada nama lainnya lagi. Permainan ini ini cukup popoler. Terutama untuk kalangan anak-anak desa.


Permainan ini menggunakan dua buah stik (satu panjang dan satu pendek). Juga membutuhkan sebuah lubang ditanah. Dan seterusnya, mungkin pembaca semua sudah tahu aturan main permainan ini.

Tapi, yang mungkin pembaca sekalian tidak tahu adalah ternyata permainan ini juga populer di Korea. Pada sebuah sinetron kolosal Korea yang berjudul "THE MOON THAT EMBRACES THE SUN" (tayang di Indosiar Senin-Jum'at jam 12.00kalo gak salah), diceritakan Cenayang Wol yang berada di pengasingan bermain permainan ini bersama pangeran Yang Myung dan anak-anak di pengasingan.

Ini buktinya:

 Pangeran Yang Myung menodongkan tongkat panjang Patil Lele pada Cenayang Wol
untuk mengajaknya bermain

 Pangeran Yang Myung menodongkan tongkat panjang Patil Lele pada Cenayang Wol
untuk mengajaknya bermain
 
Cenayang Wol berkonsentrasi melemparkan tongkat pendek Patil Lele

 Pangeran Yang Myung bersiap menangkap tongkat yang dilempar Cenayang Wol

Cenayang Wol kesal karena kalah bermain

Cenayang Wol dan Pangeran Yang Myung berebut tongkat Patil Lele

Aturan mainnya pun sama:

tongkat pendek ditaruh di dalam lubang tanah dan dipukul dengan tongkat panjang

 Tim lawan berusaha menangkap tongkat pendek yang dilempar

 Ini bagian kedua.Tongkat kecil dipukul sambil berdiri

Yang ini penghitungan skornya. Dihitung berdasarkan jarak tongkat kecil yang telah dilempar
ke lubang. Pengukurannya menggunakan tongkat panjang.


Bagian cerita ini ada di episode 15

Minggu, 17 Juni 2012

Antara Pemimpin dan Pimpinan


Permasalahan perbedaan antara dua kata ini pertama kali saya dengar adalah ketika saya mengikuti sebuah pelatihan berjudul LKMM praTD (Latihan Kepemimpinan dan Managemen Mahasiswa praTingkat Dasar) di sebuah institusi pendidikan. Saat itu trainer bertanya; apa perbedaan pemimpin dan pimpinan.
Ketika itu, trainer mencontohkan perbedaan keduanya lebih kurang sebagai berikut:

“Pada sebuah rapat yang dipimpin oleh seorang kepala, salah satu anggota rapat meninggalkan rapat untuk pergi ke kantin karena rapat membosankan. Lalu, anggota-anggota yang lain mengikutinya pergi ke kantin sehingga tidak ada yang mengikuti rapat.”

Dalam contoh ini, kepala yang yang memimpin rapat adalah pimpinan, sedangkan orang yang pergi ke kantin pertama kali dan diikuti teman-temannya itu adalah pemimpin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain (terlepas baik atau buruknya), sedangkan pimpinan tidak lebih hanya jabatan secara struktural saja.  Kesimpulannya, pimpinan tidak selalu seorang pemimpin dan untuk bisa menjadi pemimpin tidak harus menjadi pimpinan.
Ketika pertama menerima materi ini, saya sangat senang. Saya menganggapnya sebagai pengetahuan baru yang sangat menarik dan saya memegang pemahaman ini hingga beberapa lama.
Sampai kemudian, karena suatu hal, saya Out dari institusi tadi dan masuk pendidikan lain yang berkenaan dengan mempelajari Bahasa Indonesia. Sebuah perkuliahan di kelas semantik menyadarkan saya sesuatu.
Begini penjelasannya:
Kata ‘pemimpin’ dan ‘pimpinan’ sama-sama berasal dari kata dasar ‘pimpin’. Yang membedakan adalah; pada kata ‘pemimpin’, bentuk dasar ‘pimpin’mendapat afiks berupa awalan ‘pe-‘; pada kata ‘pimpinan’, bentukdasar ‘pimpin’ mendapat afiks berupa akhiran ‘-an’.

Lha terus, apa masalahnya?

Pada kata ‘pemimpin’ memang tidak ada masalah. Masalahnya ada pada kata ‘pimpinan’.
Awalan ‘pe-‘ dalam Bahasa Indonesia berarti ‘orang yang me-’. Berarti kata ‘pemimpin’ memiliki arti ‘orang yang memimpin’. Tidak ada masalah dalam hal ini. Arti yang berdasarkan TBBI sesuai dengan pengertian sehari-hari ataupun dengan penjelasan trainer di atas.
Sedangkan, pada kata ‘pemimpin’ dalam keseharian maupun dalam penjelasan trainer di atas dipahami sebagai ‘orang yang berkedudukan sebagai atasan’ atau ‘orang yang memimpin’. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  akhiran ‘-an’ berarti:

sufiks pembentuk nomina 1 hasil tindakan: buatan; catatan; didikan; 2 yg biasa dikenai tindakan; yg di-: makanan; bacaan; 3 tempat; lokasi: kubangan; pangkalan; tepian; awalan; 4 alat untuk mengukur atau menghitung: meteran; timbangan; 5 hal atau cara: tembakan.

(KBBI ofline versi 1.3 by Ebda Setiawan; mengacu pada KBBI Daring(edisi III) diambi dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ yang sekarang berganti http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/)

Artinya, kata ‘pimpinan’ seharusnya memiliki arti:
1.      Hasil tindakan memimpin, atau
2.      Orang yang dipimpin, atau
3.      Tempat; lokasi memimpin, atau
4.      (saya rasa pengertian keempat tidak bisa dipakai)
5.      Hal atau cara memimpin

Intinya, keempat makna itu menunjukkan bahwa kata ‘pimpinan’ mengacu pada obyek yang dikenai ‘pimpin’. Dengan demikian, jika ada kata:
1.      Perusahaan ini maju karena pimpinan saya; berarti ‘perusahaan ini maju karena hasil kerja saya memimpin’.
2.      Dia pimpinan saya; berarti ‘dia adalah orang yang saya pimpin/bawahan saya'.

Sesuatu yang mungkin sebagian dari kita tidak memahami sebelumnya.

Saya menulis ini bukan berarti saya mencela atau mengolok-olok trainer saya yang saya sebutkan di atas. Saya tetap berterim kasih atas pelatihan yang dia berikan.Saya tetap sangat menghormati ajarannya kerena pelatihan itu bagi saya sangat mengesankan. Hanya saja, sebagai Bangsa Indonesia; Yuk, kita amalkan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang benar. ‘Pimpinan’ bukan berarti orang yang berkedudukan sebagai atasan secara sruktural, tapi justru yang berkedudukan di bawah.

Semoga dengan ini tidak ada lagi yang membandingkan kata ‘pemimpin’ dengan ‘pimpinan’ sebagai sebuah sinonim. Mereka adalah antonim.

*(Tulisan ini dibuat berdasarkan ilham yang saya dapatkan dari perkuliahan dari Bapak Drs. Yarno. Saya Ucapkan terima kasih spesial untuknya.)