Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Diskusi Warung Kopi (dot) Blogspot (dot) com

Rabu, 15 Maret 2017

"KAPOOCINO" Sosmed Unik yang Masih Setema dengan DiskusiWarungKopi



Kebetulan sekali aplikasi sosmed yang satu ini masih setema dengan blog saya: “Masih sama-sama tentang kopi”. Yah, anggap saja memang sudah nasib kami berjodoh. Halah...! Ya, ya, ya....

Apapun itu, di sini, saya akan sedikit mengulas sosmed yang bisa dibilang masih baru ini.

Oke, namanya KAPOOCINO.

Nama macam apa itu? Udah jelas, kan, kapucino itu sejenis minuman kopi, makanya tadi saya bilang masih setema dengan nama blog ini, DiskusiWarungKopi. Entah bagaimana filosofi dari nama itu, namun sebagai sesama pengguna tema “kopi”, memakai nama bertema kopi cukup menarik perhatian, utamanya di telinga anak muda. Kopi selalu mengingatkan kita pada suasana santai dan penuh keakraban. Soal kenapa mereka pilih nama Kapoocino, bukan Esspresso, Black Coffe, atau Kopi Tubruk, sesungguhnya itu bukan termasuk urusan saya, seperti halnya mereka tidak punya urusan kenapa blog saya ini saya kasih nama DiskusiWarungKopi, bukan DiskusiWarungKapucino misalnya.

Lanjut, KAPOOCINO ini bisa kamu download aplikasinya via AppStore untuk pengguna iOS, atau di Google Play untuk yang pakai hape Android. Sayangnya belum ada versi webnya, sehingga kita belum bisa maenin pake PC. Mereka punya web dengan alamat kapoocino.com, tapi bukan di sini sosmed-nya.

Bisa dibilang KAPOOCINO ini medsos unik, karena fitur basicnya yang rada nyeleneh. Kalau biasanya sosmed macam FB, Twitter, Instagram, Path, dsb-dsb cuma bisa buat ng-upluad status tulisan, foto, atau video, di sini.... sebenarnya di sini juga masih berkutat dengan yang seperti itu, sih. Tapi gambar atau video itu bisa kita bikin kuis. Itu bedanya.

Contohnya seperti di samping ini.

Jadi bisalah, kita maen tebak-tebakan atau uji pengetahuan pakai sosmed KAPOOCINO ini. Kuis yang seperti itu bukan cuma bisa kita maenin, tapi kita bisa juga membuat kuis sendiri. Mau kuis yang ngaco atau yang seriusan, terserah kita yang ngebuat aja. Namanya suga sosmed.

Fitur yang lain, ada yang namanya ‘kapost’. Kalau yang ini standar, sih. Seperti update status di FB, twitter, atau instagram. Di sini bisa pakai tulisan doang, ditambah gambar bisa, kasih video juga bisa. Standar seperti yang lain, lah....

Terbaru, KAPOOCINO juga punya fitur pemungutan suara alias ‘poll’. Fitul ‘poll’ ini bisa diatur dengan batas waktu tertentu, bisa dalam beberapa menit, beberapa jam, atau beberapa hari. Setelah batas waktu habis, polling akan ditutup secara otomatis, dan hasilnya akan ditampakkan.

Di bawah ini contoh polling yang bisa dibuat di KAPOOCINO. Ini contoh sederhana, sih. Kalau mau lebih bagus bisa ditambah gambar juga.

Dari penilaian saya, sebenarnya sosmed yang satu ini bukan tidak bagus. Cuma sayangnya memang masih rada sepi. Mungkin karena masih baru kali, ya.... dan belum banyak promosi. Denger-denger sih dulu sempat cukup ramai, tapi kemudian penggunanya down gara-gara servernya sempat eror. Sekarang sih sudah oke kaya’nya. Selama saya coba pakai (+/- baru satu bulanan sejak download) nggak ada gangguan. Jadi kalau sosmed ini dibikin rame lagi, kaya’nya sih servernya sudah siap.

Sosmed ini patut dicoba. Selain fitur-fiturnya yang unik, ini juga sosmed buatan anak Indonesia sendiri. Developernya dari Surabaya, masih muda-muda juga. Kita doakan saja supaya mereka nanti bisa sukses seperti Mark Zuckerberg dengan Facebooknya. Amin...! (dan jangan lupa doakan semoga sukses untuk saya juga!!!)

Rabu, 21 Oktober 2015

Kisah Pejuang yang Terbuang(Resensi Buku "Dari Rimba Aceh ke Stockholm")



Judul Buku      : Dari Rimba Aceh ke Stockholm
Penulis             : dr. Husaini M. Hasan
Penerbit           : Batavia Publishing
Tebal               : 509 + xxiv
ISBN               : 978-602-71-4200-8



Buku ini menyajikan sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam narasi menarik, lengkap dengan diskripsi latar yang apik. Terutama ketika menggambarkan suasana rimba Aceh. Membaca buku ini akan menyadarkan kita betapa luar biasanya hutan hujan tropis.
Dr. Husaini adalah seorang pejuang GAM yang mendampingi Tengku Hasan di Tiro, Wali Negara Aceh, selama bergerilya di hutan Aceh hingga mendirikan markas GAM di Stockholm, Swedia. Selama itu dia mengemban tiga jabatan, yakni Sekretaris Negara, Menteri Pendidikan, dan Menteri Penerangan GAM.
Sejak meninggalkan anak istri serta karirnya pada 1977, dia mulai berjuang bersama GAM dengan bergerilya di rimba Aceh. Tidak mudah. Medan gerilya meliputi hutan lebat, rawa lumpur, dan perbukitan curam. Terbatasnya ketersediaan makanan dan kejaran tentara Indonesia juga selalu mengancam keselamatan. Binatang penggigit seperti lintah, kalajengking, dan lipan kerap menyerang. Ada pula binatang-binatang besar, tapi lumrahnya mereka tidak menyerang bila tidak merasa terancam.
Penulis menceritakan Tengku Hasan di Tiro berkali-kali menekankan GAM adalah gerakan politis. Tekanan tentara Indonesialah yang memaksa GAM mengangkat senjata. Adapun yang dilakukan dalam gerilya itu adalah menyusun pemerintahan GAM dan menyebarkan semangat Aceh Merdeka.
Pada 1988, dr. Husaini mendapat mandat ke luar negeri dengan untuk mencari Wali Negara yang sudah terlebih dulu berangkat. Malaysia menjadi pelabuhan pertamanya. Dia berangkat menaiki perahu kecil yang ditekongi seorang bernama Shaiman. Tak disangka, petualangan di Malaysia membawanya berkenalan dengan UNHCR yang kemudian membantunya  mendapat suaka di Swedia. Itulah awal dari boyongan GAM hingga bisa bermarkas di Stockholm, Swedia.
Dr. Husaini adalah orang paling berjasa dalam pendirian markas GAM di Stockholm. Tapi justru setelah itu dia mendapatkan fitnah yang merenggangkan hubungannya dengan Wali Negara, hingga tersingkir dari GAM. GAM pun pecah berkubu-kubu, yakni GAM MZ (Malik-Zaini) dan MB GAM yang diketuai dr. Husaini. Di Malaysia, muncul Majelis Pemerintahan GAM (MP GAM) sebagai wujud penolakan pengangkatan Malik sebagai perdana menteri GAM. Adapun Tengku Hasan di Tiro saat itu sakit-sakitan sehingga mudah diperalat GAM MZ.
Mengenai diperalatnya Wali Negara, penulis menceritakannya melalui kutipan percakapan Teuku Sarong dan Wali Negara.
Saat itu Teuku Sarong mengingatkan Wali Negara:
“Pak Cik, kita sudah dibohongi oleh orang-orang yang sudah menjual Aceh. Kita sudah dipisahkan dari teman-teman yang setia kepada perjuangan kita.” (hal. 360)
Jawaban Tengku Hasan di Tiro adalah:
“ ‘Lalu bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya sendiri sudah berada dalam perangkap mereka,’ ucap Wali Negara.” (hal. 360)
Akibat difitnah, sampai wafatnya Tengku Hasan di Tiro, dr. Husaini tidak bisa menemui Tengku Hasan di Tiro kecuali pertemuan tak disengaja di sebuah swalayan. Kubu Malik-Zaini seolah sengaja menjauhkan Wali Negara darinya. Menjelang perjanjian Helsinky, 2005, Wali Negara berkali-kali minta dipanggilkan dr. Husaini, tapi tidak pernah dilakukan.
“‘Di mana dokter Husaini, mengapa belum datang?’ tanya Tengku Hasan M. di Tiro lagi pada pertemuan selanjutnya.
‘Kami sudah memberitahu dia supaya datang menjumpai Tengku, tetapi lewat telepon, ia mengatakan tidak mau datang dan tidak peduli lagi tentang Aceh Merdeka!’ ucap mereka menipu Wali Negara.” (hal. 402)
Ini membuktikan betapa politik kotor tidak hanya ada pada sebuah negara yang merdeka, tapi juga meracuni sebuah organanisasi yang sedang mencari kemerdekaan.
Dengan ditandatanganinya perjanjian Hensinky, pergerakan Aceh Merdeka berakhir. Hasilnya mungkin tidak sesuai keinginan dr. Husaini yang menginginkan Aceh merdeka, lepas dari Indonesia. Tapi, bukan berarti dia harus tidak mematuhi perjanjian tersebut. Sebab, seperti yang dinasihatkan Hj. Azimar, janda pejuang GAM yang dimuat pada bagian akhir buku ini: “Tuhan tidak memberikan yang kamu inginkan, tapi memberikan yang kamu butuhkan” (hal. 473).
Mungkin, Tuhan memang memutuskan bahwa Aceh sebagai bagian dari NKRI adalah yang terbaik.

Jumat, 05 Juni 2015

Kisah Petapa dan Buah-Buahan

Sumber Gambar: manfaat.co.id


Bayangkan!!!
Ada seorang petapa tua. Tiap hari, petapa itu makan dari sedekah yang diberikan oleh orang-orang. Seringkali adalah buah.
Pada hari pertama, petapa tua mendapat buah durian sebagai makanannya. Dia begitu senang, lalu makan dengan lahapnya. Sebagai petapa saleh, tak lupa juga dia mengucapkan puja dan puji pada Tuhan.
“Sungguh Tuhan maha welas asih, aku makan dengan menyebut nama-Mu,” pujanya sebelum makan.
Lalu setelah makan, dia pun melontarkan pujinya, “Terpujilah Tuhanku, satu-satunya yang menguasai langit dan bumi, yang menciptakan ruang dan waktu, yang memberikan nyawa, serta yang mematikan kemudian.”
Begitulah cara dia bersyukur atas karunia Tuhan padanya.
Pada hari kedua, dia mendapati buah sawo sebagai makanannya. Dia pun sangat senang pada hari kedua ini. Dia makan dengan lahap tanpa lupa melontarkan puja dan puji.
“Sungguh Tuhan maha welas asih, aku makan dengan menyebut nama-Mu,” pujanya sebelum makan.
Dan setelah makan, dia pun memanjatkan pujinya, “Terpujilah Tuhanku, penguasa alam dunia dan alam akhirat, yang menjadikan segala yang nampak dan yang ghaib, pencipta hukum logika, pengukuh keadilan, dan sumber dari semua napas kasih sayang.”
Begitulah hari kedua, dia bersyukur pada Tuhan atas karunia yang tersantunkan padanya.
Tak ada bedanya pada hari ketiga, keempat, dan kelima. Dia mendapati buah yang lezat-lezat dan memakannya dengan lahap. Nanas, pisang, dan rambutan. Tak lupa pula petapa selalu menghaturkan puja dan puji pada Tuhannya.
Pada hari keenam, setelah melakukan semadi yang menjadi rutinitasnya, dia pun menengok sedekah yang dia dapat hari ini—seperti biasanya. Hari ini, dia mendapati buah pepaya terhidang di tempat makannya. Tapi sayangnya, petapa tua itu tidak terlalu suka buah pepaya. Dia pun meninggalkan buah pepaya itu di tempat tanpa menyentuhnya sama sekali. Lalu dia pulang ke rumah. Pun dengan wajah cemberut.
Hari itu, dia menahan lapar karena tidak menyukai buah pepaya. Dia tidak makan. Dan karena dia tidak makan, dengan sendirinya dia juga tidak melantunkan puja dan puji kepada Tuhan sebagaimana setiap hari dia lakukan. Siapa pula yang akan melantunkan doa puja sebelum tak makan, dan menyanyikan lagu puji setelah tak makan? Semua puja puji dicipkatan untuk mengiringi suatu laku. Tidak ada lirik puja sebelum tak melakukan apa-apa, dan larik puji sesudah tak melakukan apa-apa.
Tapi, cobalah tanya si petapa! Sadarkah dia? Pasti dia tak ingat. Mungkin yang dia tahu hanya dia tidak makan. Dia lupa dengan meninggalkan makanannya, dia juga telah meninggalkan lantunan puja dan pujinya. Padahal, Tuhan di tempatnya sana masih sebagai Zat Yang Paling Pantas Dipuja dan Dipuji. Karena Dia maha welas asih. Dia sang pencipta dan penguasa segala. Dia yang menghidupkan, dan Dia pula yang mematikan.
Tapi apa yang disabdakan Tuhan? Tuhan bergeming. Dia hanya mengucapkan: “Sungguh kalaupun semua manusia berhenti memanjatkan puja dan puji kepada-Ku, tak kan ada dampaknya bagi kebesaran-Ku. Dan kalaupun mereka semua serentak membacakan syair kebesaran-Ku, tak akan bertambah pula keagungan-Ku. Aku berkuasa atau kuasa-Ku sendiri.”

Kamis, 24 Juli 2014

Prinsip Kepemimpinan sang Samurai


Adalah Toyotomi Hedeyoshi, seorang pelayan Lord Nobunaga yang akhirnya mampu mampu menyatukan Jepang kuno setelah adanya persaingan keras antar klan. Dia menyebut dirinya “Samurai Tanpa Pedang”.
Hodeyoshi bukan seseorang yang lahir dari kalangan pemimpin. Dia hanya seorang anak petani. Dia lahir di abad 16. Pada masa itu, Jepang mengalami kericuhan akibat berbagai konflik antar klan. Setelah dewasa, Hideyoshi mengabdi kepada Lord Nobunaga. Dan ketika tuannya itu mati, dia memutuskan untuk meneruskan cita-cita tuannya, yakni menyatukan seluruh jepang.
Berikut adalah prinsip-prinsip kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi yang membuatnya mampu meraih kesuksesan menyatukan seluruh Jepang.
1.       Fokuskan pada tindakan memberi
2.       Jadiilah orang yang pertama memaafkan
3.       Untuk mendapat kepercayaan, berilah kepercayaan
4.       Menggunakan keluasan informasi untuk mengasah persepsi
5.       Menghargai komitmen
6.       Tidak memanjakan diri dalam linangan kekuasaan
7.       Tidak sombong
8.       Tidak melakukan sesuatu dengan tujuan pamer
9.       Cepat dalam bergerak
10.   Optimis
11.   Jadilah pemimpin, bukan atasan
(Seorang atasan mengerakkan bawahan dengan perintah dari atas ke bawah. Seorang pemimpin menggerakkan pengikutnya dengan inspirasi berdasarkan visi yang disampaikannya.)


 
 
 
 
 
 
 Sumber: Muhammad, Najamuddin. 2009. Nyanyian Jiwa sang Samurai. Yogyakarta: BukuBiru